Yakin itu seperti hipnotis… apapun yang diharuskanya kita kerjakanya dengan suka rela, bahkan jika kita tidak mengerjakanya terasa tersiksa. Yakin bisa menentukan sikap dan langkah seseorang, Mari kita lihat… seorang calon ibu yang yakin 6 bulan mendatang akan menemukan kebahagiaan yang luar biasa dengan akan melahirkanya bayi. maka waktu 6 bulan terasa dekat sekali. Dia mulai (orang jawa bilang ketok-ketok-en) / terbayang indahnya punya bayi, lucunya, bahagianya, dst. Karena keyakinanya itu, dia disuruh jalan-jalan tiap pagi… ok… rasa capek dirasa nikmat, disuruh cari perlengkapan bayi …ok… keliling dari toko grosir satu ke yang lainya seharian milih baju, popok bayi.. ok … gak ada capeknya malah nikmat… semua itu dia lakukan demi lancarnya segala sesuatu di hari yang ditunggu. Singkat kata hal-hal yang berhubungan dengan keperluan persalinan dan calon bayi menjadi penting, sedangkan urusan lain jadi tidak penting
Dan masih banyak contoh lainya yang sering kita jumpai disekeliling kita.
Itu semua Allah ilustrasikan untuk kita sebagai gambaran kita saat mudik diakhirat kelak yaitu; di alam kubur, syurga dan neraka. Sekarang tinggal itung saja 70 tahun – umur kita = sisa umur (taruhlah 20 th). Nah… bagi yang yakin betul 20 tahun mendatang dia akan pulang kampung ke alam kubur; bertemu malaikat yang serba putih menyenangkan, dialog ini itu lancar, tiap hari mengenyam nikmat kubur, indahnya alam barzakh, dan ditemani amal baik, dll.. Maka waktu 20 th itu, terasa dekat, dan sangat berharga, dan harus digunakan seefektif mungkin dari sekarang. Maka ketika Allah ngajak dia beramal baik, sedekah, puasa senin kamis, tahajud, shalat khusyu’, dll.. ya ok-ok… saja,.. rela-rela… saja.. Meski berat ya terasa ringan, dan merasa sayang sekali jika dilewati.
Disini berlakulah rumus yakin, yaitu semakin kuat keyakinan, maka semakin ringan melangkah dan semakin nikmat, begitu juga sebaliknya.
Tapi tampaknya kita gak bisa seyakin seperti itu semua, kenapa ?
1. Karena Allah menciptakan kita itu individual, anak kembar identikpun lah… tetap berbeda.
2. Karena Allahpun menciptakan hati dan nafsu kita yang notabene sebagai salah satu sarana untuk perubahan (yang sering digas/rem iblis) berbeda juga.
3. Karena juga tergantung pilihan keyakinan
Karena sifatnya yang individual itulah, maka saat Allah menyuruh… ya.. tanggapanya pun individual juga; ada yang langsung berangkat dengan senang hati, ada yang ntar dulu, ada yang males, ada juga yang gak mau …
Yang berikutnya, begitu juga Allah menciptakan syurga juga berbeda-beda, ada banyak macam dan kelompoknya, sebanyak variasi keyakinan dan amal kita calon penghuninya , dan itu semua harus ada yang menempatinya. Lah... kalau ada yang kosong, trus buat apa Allah menciptakan-Nya. Begitu juga neraka. Nah … sekarang terserah kita pilih yang mana, yakin yang mana. Kalau boleh saya sarankan jangan pilih yang setengah-setengah, karena setengah-setengan itu menyiksa, gak enak, bimbang, berat dikerjakan, sulit diharpakan, gak ok…
No comments:
Post a Comment